Banyak yang sudah mengenal olahraga bulutangkis dan hal ini tidaklah aneh karena bulutangkis adalah olahraga nomor 2 yang terpopuler di Indonesia setelah sepak bola. Namun apakah kita juga mengenali bahaya yang mengintai dari olahraga tepok bulu ini?

Tentunya kita dapat mengerti bahwa setiap olahraga memungkinkan terjadinya cedera dan terlebih lagi bagi olahraga yang bersifat kompetitif. Perlu diketahui bahwa setiap olahraga yang berkompetisi baik itu melawan kemampuan orang lain ataupun kemampuan diri kita sendiri memiliki potensi mengalami gangguan kesehatan yang dapat berakibat fatal apabila tidak dilakukan dengan benar dan sesuai porsi kebutuhannya.
Pada saat kita bermain bulutangkis untuk sekadar fun, tentunya yang kita peroleh juga nilai fun tersebut. Namun tidak jarang permainan ini diikuti taruhan kecil-kecilan seperti membayari minuman saat bermain dilapangan sampai dengan taruhan uang yang cukup besar. Hal inilah yang akan memacu tubuh kita dan juga jantung untuk bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan mengejar bola-bola susah yang ada pada permainan tersebut.
Beberapa kali diberitakan kejadian korban meninggal saat bermain tenis lapangan, dimana sebenarnya hal yang sama juga dapat terjadi saat bermain bulutangkis. Usia muda tidak selamanya menjadi batasan untuk aman berolahraga mengingat bahwa bagi profesional yang berusia muda juga sering mengalami stres berat dan kurang memperhatikan kesehatannya dengan baik, sehingga mereka rentan mengalami gangguan tekanan darah tinggi, kolesterol darah yang tak terkontrol, obesitas bahkan gangguan jantung yang menyebabkan terjadinya kematian mendadak di lapangan.

Tenaga yang besar, sifat agresif berkeinginan mematikan bola lawan dan semangat untuk memenangkan setiap pertarungan bila tidak disertai dengan kesiapan fisik akibat ketiadaan waktu untuk berlatih secara teratur dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri sehingga olahraga yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dapat berubah menjadi penyebab kematian tragis.
Untuk menyikapi hal tersebut, kita sebaiknya melihat dari sisi positif yang mana bukan olahraganya yang harus dihindari namun kesiapan fisik dan mental dalam berolahraga haruslah matang yaitu:
• Periksakan diri kita secara teratur pada dokter yang telah dikenal.
• Berlatihlah secara teratur dan terprogram misalnya 3x seminggu, dan bukan berlatih hanya bila punya waktu.
• Hentikan latihan bilamana ada keluhan pada daerah dada kiri yang menjalar ke lengan ataupun dagu dan bertambah nyeri dengan beraktifitas .
• Jangan memaksakan diri dan bila memungkinkan hitung denyut jantung saat berlatih.(MT/Foto ilustrasi: badmintoncartoon/google)
Dr. Michael Triangto, SpKO dikenal sebagai spesialis Kedokteran Olahraga yang juga menjabat sebagai Kepala Departemen Kedokteran Olahraga Pengurus Besar PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dan Staf Ahli Medis untuk Persatuan Golf Indonesia. Selain aktif sebagai pembicara di berbagai seminar ilmiah dan popular, sehari-hari, dr. Michael berpraktek di RS Mitra Kemayoran serta Klinik Slim&Health Mal Taman Anggrek Jakarta. Bukunya yang berjudul Sport Therapy telah diterbitkan ulang oleh Penerbit Intisari.
rileksmedia -
1 tahun yang lalu